Friday, 17 August 2018

Makam bersama kita

Aku kau makan
Makan aku kau
Kau makan aku
Makan makan aku
Kau kau makan

Aku kau
Kau aku
Makan

Aku
Kau
Makan

Kau
Makan
Aku

Makan
Aku
Kau

Aku aku aku
Kau kau kau
Makan makan makan


Dumai,  30-07-2018

Cuman cerita biasa


Tinggalkan cerita tentang pembakaran lahan
Karna itu sudah biasa oleh rakyat
Tinggalkan cerita tentang penebangan hutan liar
Karna itu sudah menjadi rahasia pejabat
Tinggalkan cerita laut, sungai,  parit,  bahkan hingga septi tank yang tercemari oleh bahan bahan kimia
Karna kita juga bisa hidup berdampingan
Tinggalkan kisah dimana lahan konservasi dijadikan perkebunan
Karna itu cerita lama bagi pak haji
Yah semua itu sudah biasa bagi kami yang tinggal diperkampungan

Apalagi cerite tentang janji para pejabat untuk memberikan air bersih yang merata,
Penutupan tempat maksiat,  pemberdayaan tenaga kerja lokal,  kesempatan ukm kecil di desa,  pelatihan bercocok tanam,  bantuin ini itu dan sejenisnya,

Sudahlah,  kami sudah kenyang mendengar kalian teriak teriak,  mondar mandir,  tunggang langgang,  habis habisan berkorban jiwa dan raga bahkan harta yang tak seberapa terhitung jumlahnya

Bunuh saja lah binatang yang mengganggu
Usir mereka ke tengah hutan tandus
Biarkan mereka masuk kelahan lahan perkebunan
Mereka juga bisa berevolusi
Biarkan harimau makan sawit
Gajah makan nasi
Tikus makan orang
Babi makan rumput
Manusia makan kancil
Biar otaknya seperti kancil
kalau perlu manusia yang mengganggu juga singkirkan
Tapi secara perlahan
Tidak bisa anda menggunakan senapan
Apalagi pakai semprotan
Itu hanya untuk rerumputan
Boleh juga kalau pake rotan
Itu pun kalau masih ada

Apa kalian tidak letih
Membela kami
Padahal kami memberi asap
Meracuni paru paru
Menyirami bara bara api ditubuh kami yg tersembunyi di bawah tanah
Sebut saja gambut

Pulanglah
Beri waktu untuk anak istrimu
Bahagiakan mereka
Mereka juga butuh bernafas
Mereka juga butuh aman
Mereka juga butuh mandi
Mereka juga butuh uangmu
Berhentilah menjadi pahlawan.
Kalau gak bisa benar benar sanggup melawan

Sssttt jangan ceritakan kepada anak kecil ya, cukup kita aja yg tau

Dumai,  01-08-2018

Kita sama

kita sama
ketika aku ingat kamu
kamu ingat aku

kita sama
ketika kamu sembunyi
aku tak berbunyi

kita sama
ketika aku diam
kamu sepi

kita sama
ketika kamu gembira
aku tertawa

kita sama
ketika aku cemburu
kamu memburu

kita sama
ketika kamu menjauh
aku berjarak

apa beda aku dan kamu?

For My Fiance

Langkah ku semakin semakin berat
Jalan menyusuri Di kehidupan nyata ini
Jantung berdegup terus menerus
Seakan gendang bedug yang di tabuh
Menyambut hari raya
Setelah tiga puluh hari berpuasa penuh pengorbanan
Gembira yang tak tergambarkan seperti yang dirasakan anak seusia dini mendapatkan THR melimpah ruah

Terus terniang ditelinga, pesan atuk
"Belum halal, jangan mondar mandir berdua"
Begitulah pesanya
Terbesit dihati ingin pergi sejauh mungkin
Hingga tak seorangpun yang mengenali wajah ini menemukanya
Sampai tiba waktu aku bisa megang tangan mungil yang baru saja di pasangkan cincin emas 24 karat
Segeralah berikan jawaban
Agar aku tak dihantui hasrat

Sebelum pulang,  satu kata yang menghujam seakan tertusuk seribu duri
Bukan perihal suka atau tidak suka
Namun kembali aku disadarkan
Ada tanggung jawab yang begitu besar menanti di depan sana,
Sampai kapan aku bisa bersilat lidah
Memainkan alasan
Membela diri untuk terlihat baik
Terasa seperti badut yang menghibur orang lain dengan kebodohanku sendiri

"Nak, perkerjaan tidak sulit untuk dicari"
Kata yang sederhana dari mak wo
 namum Disatu sisi aku sadar
Bukan hanya materi dunia
Tapi bekal akhirat juga

Wanitaku kini aku sadar
Tidak mudah untuk mengemban tanggung jawab ini
Cukup percayalah padaku
Aku akan berusaha
Menjadi imammu yang baik kelak.

Dumai
Sabtu,  18-8-2818


Saturday, 23 January 2016

PERUT KOSONG

Sebelum ku pergi dan tak kembali
Melepas suara serak berat
Burung jalak bernyanyi indah
Di kerumunan kicau liliput
Di kecamuk bara api yang menjulang
Tak bersajak ulurkan tangan
Rampas kata dari omong kosong
Tentang cinta
Tentang murka
Tentang dunia
Tentang aku dan mereka
Dalam jamuan malam bersama
Hampa tangan itu biasa
Lontaran senyum  hibur jalak
Berharap bisa di undang
Jamuan kosong perut kosong
Terkadang untung nomplok
Asal jangan di gaplok
Dari pembenci pencari nafkah seperti aku
Kami bukan pengemis
Mereka beruntung atau nasib kami sial
Bila suatu hari nanti kami tiada
Jangan rindukan kami
Peghibur jamuan omong kosongmu
kami perut kosong hibur bosan
Kami juga punya perut

Dan masih kosong 

Saturday, 16 January 2016

RICK DARI CORONA ( WS Rendra)


(Di Queens Plaza
di stasion trem bawah tanah
ada tulisan di satu temboknya:
“Rick dari Corona telah di sini.
Di mana engkau, Betsy?”)

Ya.
Rick dari Corona telah di sini.
Di mana engkau, Betsy?

– Akulah Betsy
Ini aku di sini.
Betsy Wong dari Jamaica.
Kakek buyutku dari Hongkong.
Suamiku penjaga elevator
Pedro Gonzales dari Puertorico
suka mabuk dan suka berdusta.
Kalau ingin ketemu, telpon saja aku.
Pagi hari aku kerja di pabrik roti
Selasa dan Kamis sore
aku miliknya Mickey Ragolsky
si kakek Polandia
yang membayar sewa kamarku.
Cobalah telpon hari Rabu.
Jangan kuatirkan suamiku.
Ia akan pura-pura tak tahu.
O, ya, sebelum lupa:
dua puluh dollar ongkosnya.
Betsyku bersih dan putih sekali
lunak dan halus bagaikan karet busa.
Rambutnya mewah tergerai
bagai berkas benang-benang rayon warna emas.
Dan kakinya sempurna.
Singsat dan licin
bagaikan ikan salmon

(Rick dari Corona
di perut kota New York
memandang kanan kiri
sambil minum jeruk soda)

Betsy.
Di mana engkau, Betsy?

– Ini, Betsy Hudson di sini.
aku merindukan alam hijau
tapi benci agraria.
Aku percaya pada dongeng aneka ragam
Aku percaya pada benua Atlantis.
Dan juga percaya bahwa hidup di bulan
lebih baik dari hidup di bumi.
Pada politik aku tak percaya.
Namaku Betsy.
Memang.
Tapi kita tak mungkin ketemu
Siang hari aku kerja jadi akuntan.
Malam hari aku suka nulis buku harian.

Untuk merias diri
memelihara rambut dan kuku
telah pula memakan waktu.
Namaku Betsy.
Cantik
Aku suka telanjang di depan kaca.
Aku benci lelaki.

(Dengan mobil sport dari Inggris
Rick dari Corona
mengitari kota New York
berkacamata hitam sekali.
Melanggar aturan lalu lintas
ia disetop polisi
sambil masih mimpi siang hari)

Betsy gemerlapan bagai lampu-lampu Broadway.
Betsy terbang dengan indah.
Bau minyak wanginya menidurkan New York
Dan selalu sesudah itu
aku diselimutinya
dengan selimut katun
yang ditenunnya sendiri
Betsy, di mana engkau, Betsy.

– Di sini, bodoh!
Kau selalu tak mendengarkan aku, Ricky!
Kau selalu menciptakan kekusutan.
Sepatu tak pernah kauletakkan pada raknya.
Selalu kau pakai dasi yang kacau warnanya.
Berapa kali pula kau kuperingatkan
kalau tidur jangan mendengkur.
Itu barbar.
Dan Ricky!
Kau harus belajar makan sup yang lebih sopan!

(New York mengangkang.
Keras dan angkuh.
Semen dan baja.
Dingin dan teguh.
Adapun di tengah-tengah cahaya lampu gemerlapan
terdengar musik gelisah
yang tentu saja
tak berarti apa-apa)

Rick dari Corona telah di sini
Ya. Ya.
Betsy, engkau di mana?
– Ricky, sayang, aku di sini.
Ya. Ya.
+ Engkau hitam.
Engkau bukan Betsy.
Engkau macam Negro dari Harlem.
– Pegang pinggulku
Rasakan betapa lunak dan penuhnya.
Namaku Betsy. Ya. Ya.
+ Gadisku selalu menjawab dengan sabar
segala pertanyaanku yang bodoh dan sangsi.
– Aku Betsy kerna aku Negro.
Kerna aku Negro
aku adalah tanggung jawabmu.
Ya, namaku Betsy.
Telah kuputuskan namaku Betsy
+ Apyun. Apyun.
Aku hasratkan pengalaman mistis.
Aku ingin melukis tubuhmu telanjang.
sambil kuhisap mariyuana.
– Ricky, sayang, engkau akan kuninabobokan.
Dan bagai bayi akan kaupuja tetekku.
+ Dari Queens. Dari Brooklyn. Dan dari Manhattan….
– Ricky, sayang, garudaku sayang.
+ Sebab irama combo, sebab buaian saxophone…
– Pejamkan matamu.
Dan bagaikan banyo
mainkanlah aku

(Di Harlem, Manhattan, New York
di mana orang tinggal penuh sesak
di mana udara bau air kencing dan sampah
di musim panas dengan udara sembilan puluh lima drajat
para Negro menari watusi di tepi jalan
dan pada drajat ke seratus dua
terjadi perkelahian antara mereka).

Hallo. Hallo.
Di sini Rick dari Corona.
Dan Betsy juga di sini…
Hallo, Dokter.
Kami harus disuntik sekarang juga.
Kami kena rajasinga.

Friday, 15 January 2016

DEWA MABUK (Seorang Dionisian) Karya Akhudiat

Dionisian:
Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.
Teruskan, mabukkan, pestakan, sukaria, topeng, rumbai-rumbai, musik, tari, nyanyi. Rayakan dewa anggur, kesuburan, dan ramalan. Pesta musim panas, bumi baru, kesuburan setelah membeku. Kemabukan tiada tara. Mari terbang, melayang, jungkir dan balikkan. Tanpa kemabukan bukan lagi teater namanya, dan tak ada lagi hasrat serta manfaat gunanya. Bukanlah cinta tanpa mabuk kepayang-payang, barangkali cuma letup sesaat dan tak sengaja kayak kentut. “Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian,” ujar Chairil Anwar dalam Krawang-Bekasi. Tanpa kemabukan bagaimana bisa bertahan antara realitas dan mimpi?

Kami Dionisian-dionisian setiamu, dalam kemabukan, kerasukan, cinta, dan bermain.
Dengan kemabukan kami rasuki roh-roh dan mainkan mereka, peran-peran, jadi hidup, bertindak, menjalani takdir lakon. Dalam lingkaran tari dan koor “nyanyian kambing” kami sembahkan drama Dionisian, bahkan kami perankan Sang Dewa Mabuk, Dionisos Maha Tuan Asal-muasal Drama. Kami rayakan kambing, pengganti ritus kanibalisme kuno, sesajen sebutir kepala manusia. Drama mengubah ritus darah dan nyawa menjadi seni.


*************************************
selengkapnya Download disini
*************************************