Saturday, 23 January 2016

PERUT KOSONG

Sebelum ku pergi dan tak kembali
Melepas suara serak berat
Burung jalak bernyanyi indah
Di kerumunan kicau liliput
Di kecamuk bara api yang menjulang
Tak bersajak ulurkan tangan
Rampas kata dari omong kosong
Tentang cinta
Tentang murka
Tentang dunia
Tentang aku dan mereka
Dalam jamuan malam bersama
Hampa tangan itu biasa
Lontaran senyum  hibur jalak
Berharap bisa di undang
Jamuan kosong perut kosong
Terkadang untung nomplok
Asal jangan di gaplok
Dari pembenci pencari nafkah seperti aku
Kami bukan pengemis
Mereka beruntung atau nasib kami sial
Bila suatu hari nanti kami tiada
Jangan rindukan kami
Peghibur jamuan omong kosongmu
kami perut kosong hibur bosan
Kami juga punya perut

Dan masih kosong 

Saturday, 16 January 2016

RICK DARI CORONA ( WS Rendra)


(Di Queens Plaza
di stasion trem bawah tanah
ada tulisan di satu temboknya:
“Rick dari Corona telah di sini.
Di mana engkau, Betsy?”)

Ya.
Rick dari Corona telah di sini.
Di mana engkau, Betsy?

– Akulah Betsy
Ini aku di sini.
Betsy Wong dari Jamaica.
Kakek buyutku dari Hongkong.
Suamiku penjaga elevator
Pedro Gonzales dari Puertorico
suka mabuk dan suka berdusta.
Kalau ingin ketemu, telpon saja aku.
Pagi hari aku kerja di pabrik roti
Selasa dan Kamis sore
aku miliknya Mickey Ragolsky
si kakek Polandia
yang membayar sewa kamarku.
Cobalah telpon hari Rabu.
Jangan kuatirkan suamiku.
Ia akan pura-pura tak tahu.
O, ya, sebelum lupa:
dua puluh dollar ongkosnya.
Betsyku bersih dan putih sekali
lunak dan halus bagaikan karet busa.
Rambutnya mewah tergerai
bagai berkas benang-benang rayon warna emas.
Dan kakinya sempurna.
Singsat dan licin
bagaikan ikan salmon

(Rick dari Corona
di perut kota New York
memandang kanan kiri
sambil minum jeruk soda)

Betsy.
Di mana engkau, Betsy?

– Ini, Betsy Hudson di sini.
aku merindukan alam hijau
tapi benci agraria.
Aku percaya pada dongeng aneka ragam
Aku percaya pada benua Atlantis.
Dan juga percaya bahwa hidup di bulan
lebih baik dari hidup di bumi.
Pada politik aku tak percaya.
Namaku Betsy.
Memang.
Tapi kita tak mungkin ketemu
Siang hari aku kerja jadi akuntan.
Malam hari aku suka nulis buku harian.

Untuk merias diri
memelihara rambut dan kuku
telah pula memakan waktu.
Namaku Betsy.
Cantik
Aku suka telanjang di depan kaca.
Aku benci lelaki.

(Dengan mobil sport dari Inggris
Rick dari Corona
mengitari kota New York
berkacamata hitam sekali.
Melanggar aturan lalu lintas
ia disetop polisi
sambil masih mimpi siang hari)

Betsy gemerlapan bagai lampu-lampu Broadway.
Betsy terbang dengan indah.
Bau minyak wanginya menidurkan New York
Dan selalu sesudah itu
aku diselimutinya
dengan selimut katun
yang ditenunnya sendiri
Betsy, di mana engkau, Betsy.

– Di sini, bodoh!
Kau selalu tak mendengarkan aku, Ricky!
Kau selalu menciptakan kekusutan.
Sepatu tak pernah kauletakkan pada raknya.
Selalu kau pakai dasi yang kacau warnanya.
Berapa kali pula kau kuperingatkan
kalau tidur jangan mendengkur.
Itu barbar.
Dan Ricky!
Kau harus belajar makan sup yang lebih sopan!

(New York mengangkang.
Keras dan angkuh.
Semen dan baja.
Dingin dan teguh.
Adapun di tengah-tengah cahaya lampu gemerlapan
terdengar musik gelisah
yang tentu saja
tak berarti apa-apa)

Rick dari Corona telah di sini
Ya. Ya.
Betsy, engkau di mana?
– Ricky, sayang, aku di sini.
Ya. Ya.
+ Engkau hitam.
Engkau bukan Betsy.
Engkau macam Negro dari Harlem.
– Pegang pinggulku
Rasakan betapa lunak dan penuhnya.
Namaku Betsy. Ya. Ya.
+ Gadisku selalu menjawab dengan sabar
segala pertanyaanku yang bodoh dan sangsi.
– Aku Betsy kerna aku Negro.
Kerna aku Negro
aku adalah tanggung jawabmu.
Ya, namaku Betsy.
Telah kuputuskan namaku Betsy
+ Apyun. Apyun.
Aku hasratkan pengalaman mistis.
Aku ingin melukis tubuhmu telanjang.
sambil kuhisap mariyuana.
– Ricky, sayang, engkau akan kuninabobokan.
Dan bagai bayi akan kaupuja tetekku.
+ Dari Queens. Dari Brooklyn. Dan dari Manhattan….
– Ricky, sayang, garudaku sayang.
+ Sebab irama combo, sebab buaian saxophone…
– Pejamkan matamu.
Dan bagaikan banyo
mainkanlah aku

(Di Harlem, Manhattan, New York
di mana orang tinggal penuh sesak
di mana udara bau air kencing dan sampah
di musim panas dengan udara sembilan puluh lima drajat
para Negro menari watusi di tepi jalan
dan pada drajat ke seratus dua
terjadi perkelahian antara mereka).

Hallo. Hallo.
Di sini Rick dari Corona.
Dan Betsy juga di sini…
Hallo, Dokter.
Kami harus disuntik sekarang juga.
Kami kena rajasinga.

Friday, 15 January 2016

DEWA MABUK (Seorang Dionisian) Karya Akhudiat

Dionisian:
Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.
Teruskan, mabukkan, pestakan, sukaria, topeng, rumbai-rumbai, musik, tari, nyanyi. Rayakan dewa anggur, kesuburan, dan ramalan. Pesta musim panas, bumi baru, kesuburan setelah membeku. Kemabukan tiada tara. Mari terbang, melayang, jungkir dan balikkan. Tanpa kemabukan bukan lagi teater namanya, dan tak ada lagi hasrat serta manfaat gunanya. Bukanlah cinta tanpa mabuk kepayang-payang, barangkali cuma letup sesaat dan tak sengaja kayak kentut. “Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian,” ujar Chairil Anwar dalam Krawang-Bekasi. Tanpa kemabukan bagaimana bisa bertahan antara realitas dan mimpi?

Kami Dionisian-dionisian setiamu, dalam kemabukan, kerasukan, cinta, dan bermain.
Dengan kemabukan kami rasuki roh-roh dan mainkan mereka, peran-peran, jadi hidup, bertindak, menjalani takdir lakon. Dalam lingkaran tari dan koor “nyanyian kambing” kami sembahkan drama Dionisian, bahkan kami perankan Sang Dewa Mabuk, Dionisos Maha Tuan Asal-muasal Drama. Kami rayakan kambing, pengganti ritus kanibalisme kuno, sesajen sebutir kepala manusia. Drama mengubah ritus darah dan nyawa menjadi seni.


*************************************
selengkapnya Download disini
*************************************

RINTIK RIANI

Biar rintik demi rintik
Hujan turun dari langit
Biar tetes demi tetes
Keringat bercucuran
Biar dingin terus menusuk
Luka dalam daging

Tak kan goyah
Hingga renta waktu
Tak kan hilang
Di telan bumi
Tak kan musnah
Termakan zaman

Rintik ini milik Riani 


Kos abu-abu, pekanbaru

oktober 2015

Wednesday, 13 January 2016

PENGUASA HATI

Ribuan cahaya temaram
Jauh diatas roda-roda jalanan
Bagai kunang-kunang pulang pada jalur
Hilang jingga di pelupuk barat
Diiringi lantunan surga

Seorang pria berjalan memetikan zippo
Dan sebatang rokok ditangan
Lalu tanpa sepatah kata ia hilang
Masih disini tunggu asa tak kunjung datang

Panggilan tuhan mungkin terakhir kali
Burung kecil datang karna ia taat
Seperti seorang tersesat
Duduk termenung disimpang jalan menuju malam
Mahkota jiwa menerawang di jalan raya
Wahai engkau sang penguasa hati
Waktumu terlalu singkat

Jembatan malam, pekanbaru

28 februari 2015

Tuesday, 12 January 2016

KURIR

Bukan resah pada gelisah
Juga tidak sedang gundah
Atau sia -sia bergentayang

Senja kini menjemput malam
Fajar jauh tinggalkan malam
Siang tak kuasa tolak malam
Bukan sia - sia bergentayang

Lalu lalang jadi ilalang
Berdiri kokoh alur pada angin
Ingin hati pada air
Terjun di ruang tersedia

Hantam tembok batasan hidup
Cari jalan jati diri
Tidak lagi  sia-sia bergentayang

Hanya kurir kesibukan


Jembatan malam, pekanbaru

10 juni 2013

Monday, 11 January 2016

KOPI, ROKOK DAN HUJAN

Dan sekali ini di sore hari
Daun lenih tampak hijau dari biasa
Langit masih putih seperti kemarin
Saat aku masih telum terbangun dari mimpi
Negri awan tak berkesudahan

Rindu bersemayam pada langit biru
Dan bintang sejenak terhenyak
Semilir angin menerpa wajah
Wajah yang ditilang malang
Bencana tak sudah-sudah
Masih ingi melawan lupa


Camp coklat merah bata, pekanbaru

11 november 2015 

Sunday, 10 January 2016

BOLA LAMPU

Cahaya semakin terang
Hampir setengah matang
Masih berlari di tepian pantai
Setia menanti ombak datang dan pergi
Tanpa henti

Kemana angin
kemana nak melangkah
Ke tanjung tersandar
Ke teluk bermuara
Terlihat tenang di jutaan kubik samudera
Masihkah tanpa bunyi
Ketika hendak sampai pinggiran

Apabila kematangan
Bola bola telah berganti
Pijaran semakin terrang
Semakin banyak meghapus gelap
Meski tak terbayang
Lebih butuh, lebih banyak daya dan upaya

Ingin kembali dari para penggila mimpi
Apalagi cinta mati
Padamu akhir dari awal
Bagai lorong bertepi tak berujung
Hingga rahasia maut


Pamutusan, SUMBAR

25 Desember 2016

Saturday, 9 January 2016

FLAMBOYAN 10 DUA

hati semakin menderu
seakan terkepung para serdadu
sekilas terdengar langkah kaki di lorong flamboyan
lalu hilang seketika
lafal-lafal firmanya berkumandang
saat itu nomor sepuluh landai dua
seorang anak bertanya pada ibunya
" siapa nabi awak mak?'
"adam"
laillahailallah
muhammadarasululloh
"mak muhammad rasul allah mak"
"allah...."
"mak siapo namo anak mak yang pertamo?"
"allah..."
"anak mak perempuan"
"allah...mak"
"namo mak ?"
lalu...
bunyi menjadi sunyi
tanpa tangis
tanpa haru
tiba-tiba terduduk
mak pun kembali
dari suri hampa